Yuk Sekilas Mengenal Sejarah Konferensi Asia Afrika dan Keseruan Asia Africa Festival!

 

Kejadian bersejarah Konferensi Asia Afrika menjadi satu momen besar yang pernah dialami bangsa Indonesia. Dilaksanakan pertama kali pada 18 - 25 April 1955 lalu di Gedung Merdeka, Bandung, momen ini jadi titik balik kerjasama negara-negara di kawasan Asia dan Afrika.

Mungkin tak banyak yang mengingat bagaimana sejarah konferensi besar yang diikuti oleh negara-negara dari seluruh penjuru benua Asia dan Afrika. Setidaknya jika ditotal, penduduk negara yang turut serta dalam acara ini adalah lebih dari setengah populasi dunia.

Agar lebih mengenal kejadian bersejarah tersebut, mari sedikit mengulas mengenai Konferensi Asia Afrika, yang hingga kini masih terus diperingati sebagai hari bersejarah untuk Indonesia dan dunia.

 

Sejarah Singkat Konferensi Asia Afrika

Awalnya, Konferensi Asia Afrika merupakan hal yang digagas oleh pemimpin negara di kawasan Asia dan Afrika, atas undangan perdana menteri Sri Lanka saat itu, Sir John Kotelawala. Para pemimpin kemudian berkumpul dan menggagas konferensi tersebut, sebagai respon atas keadaan dunia yang masih panas setelah Perang Dunia I. Kala itu, terdapat Perang Dingin yang terjadi antara blok Amerika Serikat dan blok Uni Soviet.

Konferensi ini ditujukan sebagai acara yang melambangkan solidaritas, cinta damai, serta momen menjalin kerjasama negara-negara di kawasan Asia dan Afrika yang banyak diantaranya baru saja mencecap manisnya kemerdekaan.

 

Kronologi dan Peran Indonesia ketika Konferensi Asia Afrika Berlangsung


Titik awal terjadinya konferensi ini sebenarnya bisa ditarik sejak tahun 1954, tepatnya 28 hingga 29 Desember 1954. kala itu, pemimpin negara Asia dan Afrika berkumpul di Bogor guna menyusun kerjasama yang bersifat netral, tidak memihak blok Barat atau Timur.

Kesepakatan mengerucut bahwa Konferensi Asia Afrika akan diadakan di Indonesia, tepatnya di kota Bandung. Kala itu dibentuklah panitia persiapan konferensi tersebut pada 5 Januari 1955 oleh gubernur Jawa Barat Samsi Hardjadinata.

Selain panitia persiapan KAA tersebut, Indonesia juga turut membentuk Panitia Interdepartemental pada 11 Januari 1955 guna menyiapkan hotel yang akan digunakan untuk penginapan tamu peserta KAA nantinya. Venue yang digunakan sendiri kemudian adalah Gedung Merdeka, yang awalnya bernama Gedung Concordia. Tempat lain yang juga digunakan adalah Gedung Dwiwarna, yang awalnya bernama Gedung Dana Pensiun.

Setelah delapan hari melaksanakan pertemuan, sederet kesepakatan diambil. Secara umum, kesepakatan ini berkisar antara memajukan kerjasama negara peserta konferensi untuk bidang sosial, ekonomi, serta budaya, kemudian membantu perjuangan melawan imperialisme, menjunjung sikap menghargai HAM, dan aktif menciptakan perdamaian dunia.

Kerjasama internasional tersebut juga diwujudkan dalam Declaration on The Promotion of World Peace and Corporation, atau dikenal dengan istilah Dasasila Bandung. Secara garis besar, berikut isinya.

Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan seereta asas-asas yang termuat dalam Piagam PBB.

  1. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.

  2. Mengakui persamaan semua suku banga dan persamaan semua bangsa besar maupu kecil.

  3. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soal-soal dalam negeri negara lain.

  4. Menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri.

  5. Tidak mempergunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukan tekanan terhadap negara lain.

  6. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekuasaan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik suatu negara.

  7. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian hukum, ataupun lain-lain cara damai menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan yang sesuai dengan Piagam PBB.

  8. Memajukan kepentingan bersama dan kerja sama.

  9. Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

     

Peringatan Konferensi Asia Afrika 2022 di Bandung


Peringatan Konferensi Asia Afrika tahun 2022 sendiri berjalan dengan cukup meriah. Festival yang didapuk dengan nama Asia Africa Festival dilaksanakan, sebagai buah kolaborasi antara pemerintah kota Bandung dan Museum Konferensi Asia-Afrika.

Dengan semangat yang masih sama seperti saat pertama kali dikumandangkannya Dasasila Bandung, pihak pemerintah dan pengelola Museum Konferensi Asia-Afrika ingin mengenalkan kembali pada publik mengenai semangat nilai baik yang diberikan konferensi tersebut, sekaligus momen kebangkitan pariwisata Bandung yang sempat terdampak oleh pandemi beberapa waktu belakangan.

Baca Juga : Mau Lihat Ide Kreatif dan Karya Keren? Tonton Bandung Film Initiative 2022

 

Asia Africa Festival, Rangkaian Peringatan KAA di Bandung

Asia Africa Festival Tahun 2022 sendiri mengusung tema Harmonization of Asia Africa dengan konsep Event Virtual Hybrid Seni Budaya dan Karnaval. Hal ini memperhatikan kondisi pandemi yang masih dialami, sehingga tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Festival yang berlangsung pada tanggal 25 Mei 2022 ini terbagi dalam tiga rangkaian berbeda. Mulai dari Pre-Event, Gala Dinner dan Main Event. Misi utamanya, selain mengingatkan publik pada kejadian bersejarah tersebut, juga adalah sebagai sarana promosi Bandung ke dunia dan membangun kebanggaan masyarakat Bandung pada kotanya.

Berbekal keindahan, kenyamanan, dan ragam seni budaya yang dimiliki, Bandung sudah sewajarnya jadi destinasi wisata budaya dunia. Dengan festival ini kemudian diharapkan sektor perekonomian kota Bandung bisa pulih dan menjadi lebih kuat.

Sedikit sejarah mengenai Konferensi Asia Afrika di atas semoga bisa jadi bacaan yang menarik. Tentu, kamu bisa berkunjung dan menikmati Asia Africa Festival pada tanggal yang sudah ditetapkan, sehingga kunjungan kamu ke Bandung terasa lebih spesial!